Sistem Koloid: Karakteristik, Jenis, Sifat, dan Cara Pembuatannya

Halo, Sobat SimulasiKu! Apakah di antara kamu ada yang suka minum susu? Sobat sudah tahu belum, bahwa susu termasuk salah satu jenis campuran kimia? Apa itu? Yap, koloid. Perlu kamu ingat, Kimia mengenal tiga jenis campuran, yaitu larutan, suspensi, dan sistem koloid.

Larutan merupakan campuran yang bersifat homogen dan tidak bisa kamu pisahkan atau saring, seperti larutan gula. Sementara itu, suspensi adalah campuran heterogen yang terdiri dari dua fase dan dapat dipisahkan endapannya. Nah, kalau koloid ini apa, ya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

1. Apa Itu Sistem Koloid?

contoh sistem koloid
Susu termasuk salah satu contoh koloid

Koloid merupakan jenis campuran heterogen yang terdiri dari fase terdispersi dan medium pendispersi. Fase terdispersi adalah zat yang mengalami penyebaran secara merata dalam suatu zat lain, sedangkan zat yang menyebabkan terjadinya penyebaran disebut medium pendispersi

Sama seperti larutan, koloid sekilas menyerupai campuran homogen, padahal kenyataannya heterogen, lo, bila kamu amati menggunakan mikroskop ultra. Kendati demikian, sistem koloid bersifat lebih stabil dari suspensi karena hanya bisa terpisah dengan penyaring ultra. Jadi, bisa dibilang koloid ini memiliki karakteristik di antara larutan dan suspensi.

Baca juga: 7 Pekerjaan Online untuk Pelajar SMA, Sobat Gap Year Wajib Tahu!

2. Jenis-Jenis Koloid

jenis koloid aerosol
Parfum adalah jenis koloid aerosol

Pada koloid, fase terdispersi dan medium pendispersi bisa berwujud padat, cair, atau gas. Oleh karena itu, berdasarkan perbedaan antara fase terdispersi dan medium pendispersinya, sistem koloid terbagi menjadi delapan jenis. Apa saja? Yuk, kita bahas satu per satu.

a. Sol Padat (Padat dalam Padat)

Jenis koloid yang pertama ada sol padat. Baik fase terdispersi maupun medium pendispersi, keduanya sama-sama berasal dari zat padat. Sol padat ini terbentuk karena pengaruh tekanan dan suhu sehingga menghasilkan padatan yang kokoh dan keras. Contoh koloid jenis ini, antara lain kaca berwarna, kuningan, dan permata.

b. Emulsi Padat (Cair dalam Padat)

Selanjutnya, ada emulsi padat yang memiliki fase terdispersi berupa cairan dalam medium pendispersi padat, misalnya agar-agar. Agar-agar terbuat dari air (fase terdispersi) yang dicampur dengan bubuk agar-agar (medium pendispersi). Contoh lainnya adalah mentega, keju, dan mutiara.

c. Buih Padat (Gas dalam Padat)

Buih padat memiliki fase terdispersi berupa gas yang berada dalam medium pendispersi padatan. Contoh buih padat, yaitu spons, batu apung, karet busa, dan styrofoam.

d. Sol (Padat dalam Cair)

Koloid sol memiliki fase terdispersi padat dalam medium pendispersi cair yang tidak mudah berubah sifatnya. Contohnya, cat, tinta, lem kanji, gelatin, dan tanah liat.

e. Emulsi (Cair dalam Cair)

Selanjutnya, ada emulsi yang terdiri dari fase terdispersi dan medium pendispersi berupa cairan. Emulsi biasanya tersusun oleh cairan dengan kepolaran yang berbeda sehingga tidak saling bercampur. Contoh emulsi adalah susu, santan, mayones, dan krim wajah.

f. Buih (Gas dalam Cair)

Buih memiliki fase terdispersi berupa gas dalam medium pendispersi cair, atau bisa disebut juga gas yang terdispersi di dalam cairan. Contohnya, busa sabun, krim kocok, dan meringue.

g. Aerosol Padat (Padat dalam Gas)

Fase terdispersi aerosol padat berupa padatan dalam medium pendispersi gas. Contoh aerosol padat, meliputi asap kendaraan, debu, dan droplet virus di udara.

h. Aerosol (Cair dalam Gas)

Jenis koloid yang terakhir adalah aerosol. Aerosol terdiri dari fase terdispersi cair dan medium pendispersi gas. Aerosol tidak bisa bertahan lama karena zat penyusunnya yang mudah rusak oleh perubahan suhu dan tekanan udara lingkungan. Parfum, awan, kabut, dan embun termasuk koloid jenis aerosol.

Baca juga: 5 Hal Penting Perlu Dilakukan Saat Pelaksanaan UTBK, Jangan Lewatkan!

3. Sifat Koloid

efek Tyndall
Salah satu sifat koloid adalah dapat menghamburkan cahaya

Setelah membahas jenis-jenis koloid, mari sekarang kita mengenal sifat koloid. Secara umum, sistem koloid mempunyai delapan sifat, yaitu:

  • Efek Tyndall: Penghamburan cahaya oleh partikel koloid karena ukuran partikel koloid yang lebih besar dari larutan. 
  • Gerak Brown: Pergerakan acak partikel koloid karena adanya tumbukan. Gerak Brown tidak dapat kamu lihat secara kasat mata, melainkan harus menggunakan mikroskop ultra.
  • Adsorpsi: Penyerapan ion-ion oleh partikel koloid. Oleh karena itu, koloid bisa bermuatan sesuai dengan muatan ion yang diserap. Dengan demikian, koloid tidak akan menggumpal karena muatan ion-ion sejenis akan saling tolak menolak.
  • Koagulasi: Penggumpalan partikel koloid yang tidak bermuatan (netral).
  • Dialisis: Pemurnian koloid dari ion-ion pengganggu dengan menggunakan membran semipermeabel. Proses ini dapat kamu temukan dalam dunia nyata, yaitu cuci darah (hemodialisis).
  • Elektroforesis: Pergerakan partikel koloid yang bermuatan dalam medan listrik. Katode merupakan kutub negatif, sedangkan anode adalah kutub positif.
  • Koloid Liofilik dan Liofob: Sifat ini berlaku untuk sistem koloid jenis sol. Sol liofob terjadi antara partikel zat terdispersi yang tidak dapat berinteraksi dengan mediumnya sehingga sifatnya cenderung encer. Sementara itu, pada sol liofil, zat terdispersinya suka atau dapat menarik mediumnya karena ada gaya tarik menarik. Hal ini menyebabkan sol liofil lebih kental dari liofob.
  • Koloid Pelindung: Pelindungan sol liofilik terhadap sol liofob untuk mencegah kemungkinan terjadinya koagulasi.

Baca juga: 6 Kegunaan Senyawa Turunan Alkana dalam Kehidupan Sehari-hari

4. Cara Pembuatan Koloid

cara pembuatan koloid
Koloid dapat dibuat melalui proses penggilingan (mekanik)

Selanjutnya, kita akan membahas mengenai cara pembuatan sistem koloid yang terbagi menjadi dua, yaitu melalui kondensasi dan dispersi. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

a. Kondensasi

Kondensasi adalah proses pembuatan koloid dari larutan, di mana prosesnya dapat berlangsung secara fisika, yaitu berupa pengubahan pelarut, maupun secara kimia yang melibatkan reaksi kimia. Contohnya, reaksi redoks (oksidasi-reduksi), hidrolisis (direaksikan dengan air), dekomposisi rangkap, atau reaksi substitusi.

b. Dispersi

Berbeda dengan kondensasi, dispersi adalah proses pembuatan koloid dari suspensi, yaitu dari partikel besar menjadi partikel yang lebih kecil. Dispersi dapat terbagi lagi menjadi tiga proses, yaitu:

  • Secara mekanik, melalui proses penggerusan atau penumbukan, kemudian ditambahkan medium berupa zat cair yang panas.
  • Secara peptisasi, dengan menambahkan ion yang sejenis dalam suatu endapan.
  • Busur Bredig, yaitu penggunaan bunga api listrik untuk membuat koloid logam.

Nah, itulah penjelasan lengkap mengenai sistem koloid. Semoga setelah membaca artikel ini, Sobat jadi semakin paham dengan materi Kimia yang satu ini, ya!

Sebagai informasi tambahan, kamu juga dapat mempelajari materi lainnya melalui video pembelajaran yang tersedia di SimulasiKu, maupun mengikuti bimbel intensif UTBK dan try out online. Yuk, cek sekarang juga!

Editor: Arin Khurota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact Us